DAERAH

Tepis Tudingan Bersikap Pasif, Ini Upaya Pemkab Wondama untuk Evakuasi Mantri Patra Sebelum Meninggal

WASIOR – Pemkab Teluk Wondama, Papua Barat buka suara menanggapi berbagai isu yang berkembang terkait kematian Mantri Patra Kevin Marinnha Jauhari.

Kepada awak media di kantor bupati di Isei, Selasa (25/6), Bupati Bernadus Imburi menyatakan Pemkab sebenarnya telah berupaya untuk secepatnya mengevakuasi Mantri Patra dari Kampung Oya begitu mendapat laporan bahwa sang petugas medis itu dalam keadaan sakit.
Dikatakan, informasi tentang sakitnya Patra pertama kali diterima pada 18 Juni dari masyarakat Kampung Oya bahwa yang bersangkutan sudah satu minggu sakit.
Segera setelah info itu diterima, Bupati yang ketika itu sedang tugas luar memerintahkan jajarannya untuk segera mencari helikopter.

Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen lantas menghubungi pimpinan yayasan Helivida yang telah berlangganan dengan Pemkab Wondama untuk meminta dikirim helikopter. Namun tidak bisa terlayani karena sudah terjadwal dengan pihak lain. Sementara pilot yang bertugas melayani Teluk Wondama sedang cuti.

Karena itu pada Rabu, 19 Juni 2019 diupayakan mencari helikopter lain dan diperoleh kepastikan heli milik PT. Intan Angkasa Nabire bersedia. Dari koordinasi yang dilakukan disepakati heli akan terbang dari Nabire untuk melakukan evakuasi pada Jumat, 21 Juni.

Namun penerbangan tersebut akhirnya batal lantaran heli yang saat itu masih berada di Timika tidak bisa terbang ke Wondama karena cuaca buruk.

“Pada Jumat 21 Juni 2019 sekitar pukul 12.00 WIT Suster Sofia Wamafma, bidan di Puskesmas Naikere mendapat informasi dari masyarakat bahwa Kampung Oya bahwa Mantri Patra telah meninggal pada Selasa, 18 Juni karena sakit, “ ujar Bupati.

Akhirnya pada Sabtu, 22 Juni pukul 08.25 WIT helikopter yang dipesan dari Nabire tiba di Wasior. Karena Mantri Patra sudah meninggal, heli tersebut lantas terbang ke Oya untuk mengevakuasi jenazah almahrum.

Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Teluk Wondama di Manggurai untuk ditangani tim medis bersama pihak karantina karena rencananya jenazah akan di bawa pulang kampung halaman almahrum di Palopo, Sulawesi Selatan. Namun kondisi jenazah ternyata sudah tidak memungkinkan lagi sehingga tidak mendapat ijin dari karantina.

“Dengan kondisi jenazah yang tidak memungkinkan lagi untuk dikirim maka langsung dikomunikasikan dengan pihak keluarga almahrum baik di Manokwari maupun di Palopo untuk dimakamkan di Wasior. Dan Pemda memfasilitasi kedatangan perwakilan pihak keluarga ke Wasior, “ terang Imburi.

Almahrum Mantri Patra kemudian dimakamkan di Wasior pada Senin, 24 Juni 2019 yang diawali dengan prosesi penyerahan jenazah dari Pemda kepada keluarga. Pemkab memberikan piagam penghargaan dan pangkat anumerta berdasarkan SK Bupati Teluk Wondama No.861/201/BUP-TW/VI/2019.

Pada sesi jumpa pers yang dihadiri pula Wakil Bupati Paulus Indubri, Sekda Denny Simbar bersama sejumlah besar pimpinan OPD, Bupati menjelaskan, penugasan Mantri Patra ke Kampung Oya adalah upaya dari Pemda untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat di wilayah yang masih terpencil dan terisolir itu.

Termasuk di Kampung Undurara dan Kampung Inyora yang juga memiliki kesulitan medan geografis yang serupa. Kegiatan tersebut telah dijalankan sejak 2016 yang mana pada tahun-tahun sebelumnya hanya dilakukan pelayanan kesehatan dengan sistim pulang pergi selama satu hingga tiga hari.

“Almahrum ditugaskan di Kampung Oya sejak 8 April 2019 bersama dengan Jhon Inggesi selama 3 bulan sehingga penugasannya akan berakhir dan dijemput kembali pada 8 Juli 2019, bukan pada 8 Juni 2019 sebagaimana pemberitaan oleh berbagai media, “ pungkas orang nomor satu Wondama. (Nday)

To Top
error: Content is protected !!