METRO

Hasil Test Fisik Jadi Tolak Ukur Kemajuan Atlet Papua Dalam Ajang Pon XX

JAYAPURA – Sekretaris Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Papua, Kenius Kogoya mengaku hasil test fisik tahap pertama yang telah dilakukan 461 atlet dari 32 cabang olahraga (cabor) pada (12-18 Mei 2018) lalu akan menjadi tolak ukur dari kemajuan atlet, sebab hasil data test tersebut akan diserahkan kepada masing-masing pengprov cabang olahraga (cabor) untuk ikut bertanggung jawab dalam mempersiapkan atlet.

“Kami akan koordinasikan ke masing-masing cabor, data hasil itu sebagai data awal bagi KONI Papua, karena ketika TC mulai berjalan bisa melihat progress kemajuan dari atlet, sebab test fisik akan terus dilakukan secara berkala, supaya bisa dilihat kembali kemajuan mereka,” ujar Kenius saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (30/05/2018).

Lanjut Kenius, test fisik yang dilakukan secara berkala tersebut lebih kepada cabang olahraga beladiri maupun cabor yang bertanding dengan menggunakan full body kontak dan kekuatan fisik seperti Sepakbola, Bola Basket, Bola Volly, Futsal, Rugby dan lainnya.

“Tentu tidak semua atlet cabor harus test fisik yang sama, tapi kita lebih ke cabang full kontak dan fisik karena kita harus lihat standart kekuatan fisiknya bisa diukur sejauh mana, sehingga ketika turun bertanding bisa dapat diukur untuk mendapatkan medali,” katanya.

Selain test fisik yang sudah dilakukan KONI Papua guna mempersiapkan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 di Papua, kedepan pihaknya juga akan melakukan test psikis atau test mental bagi para atlet, sebelum diserahkan kepada tim Pusat Latihan Provinsi (Puslatprov).

“Kita akan lakukan sambil berjalan, jadi kita mau lihat atlet-atlet kita itu punya mental juara atau tidak. Jangan sampai kesehatan, fisik bagus tapi mental tidak ada, sambil mereka latihan TC berjalan kita test psikis,” ungkapnya.

Kenius juga mengaku kekurangan dana menjadi kendala yang dihadapi KONI Papua dalam mempersiapkan atlet membuat hingga saat ini belum dilakukan pemusatan latihan (TC) bagi atlet PON 2020.

“Kita harapkan pemerintah membantu kami di perubahan APBD baru kita bisa lakukan pemusatan. Publik masyarakat perlu tahu mengapa kami belum siapkan atlet karena KONI terkendala dana,” harapnya.

Ditambahkan, hasil test fisik tersebut masih ditemukan dibawah standart performa/kondisi yang harus kembali dibina dan ditingkatkan atau memang harus digantikan dari pengprov cabor atlet tersebut.

“Paling tidak atlet yang masuk pemusatan latihan (TC) adalah atlet yang sudah siap dan atlet jadi, bukan atlet yang baru belajar. Mereka akan diserahkan kepada pelatih dan pengprov, kira-kira periodisasinya seperti apa untuk menaikan daya tahan fisik atau kekuatan,” tambahnya.

Kenius mengungkapkan hasil dibawah standart test fisik yang didapatkan KONI Papua akibat para atlet vacum cukup lama dan tidak melakukan latihan sejak PON Jawa Barat lalu, sehingga data awal test fisik tersebut menjadi standar awal.

“Mereka dari nol lagi, itu perlu waktu lagi untuk berlatih lagi, tapi ada juga atlet yang memiliki hasil diatas rata-rata atau bisa dibilang mereka masih berpeluang meraih medali,” tandasnya.*(A/C)

To Top
error: Content is protected !!