MANOKWARI

Disekolahkan Dominggus, Dua Pilot Putra Arfak Lulusan 2016 Masih Menganggur

MANOKWARI— Dua putra asal Pegunungan Arfak, masing-masing Wilson Inden dan Erikson Ahoren, belum mendapat pekerjaan meski mereka telah menamatkan pendidikan pilot di sekolah Pilot Aero Flayer Institut Bandung sejak 2016.

Keduanya diketahui disekolahkan oleh Pemerintah Kabupaten Pegunungan Arfak saat Dominggus Mandacan menjadi Karetaker Bupati kabupaten tersebut.

Seorang pemuda Kabupaten Arfak, Lamek Dowansiba, mengatakan, keduanya belum mendapat pekerjaan karena alasan tidak adanya rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Padahal menurut Lameck, rekomendasi menjadi salah satu surat penting kepada kedua putra asli Papua tersebut untuk mendaftar pekerjaan pada maskapai penerbangan.

Menurut Lameck, keduanya terpaksa ‘menyerah’ dan tidak berharap banyak, karena pernah bertemu Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, untuk meminta dukungan orang nomor satu di Papua Barat tersebut, namun hingga kini belum ada jawaban yang cukup menggemberikan.

Keduanya menurut Lameck, sekarang hanya berharap adanya surat ‘sakti’ berupa rekomendasi untuk melamar pekerjaan.

“Saya menyayangkan tidak adanya perhatian dari Pemerintah Papua Barat. Sumber daya manusia (SDM) sudah ada tapi diabaikan begitu saja. Padahal Wilson Inden Erikso Ahoren ini telah menyelesaikan studi penerbangan sejak 2016,” ujar Lamek Dowansiba.

Menurut Lamek, Dominggus harusnya memberikan perhatian kepada keduanya. Sebab keduanya mengenyam pendidikan di Bandung melalui beasiswa Pemda Pegunungan Arfak saat Dominggus menjabat caretaker bupati.

“Wilson dan Erikson ini kan mendapat beasiswa dar Pemda Pegaf. Saat itu pak Dominggus masih menjabat karetaker bupati, kemudian setelah mereka menyelesaikan studi mengapa diabaikan begitu saja. Sebenarnya keberpihakan pemerintah itu kepada masyarakat mana?” ujarnya mempertanyakan.

Ia kemudian mempertanyakan komitmen pemerintah memprioritaskan orang asli Papua OAP yang selama ini digembor-gemborkan, sementara disisi lain terdapat SDM yang sudah siap dibidang penerbangan namun untuk mendapat rekomendasi, mereka harus menanti bertahan-tahun lamanya.

“Aktivitas mereka saat ini hanya menganggur. Tidak ada pekerjaan lain setelah tamat dari sekolah penerbangan. Keduanya masih terus menanti keberpihakan dan kepedulian Gubernur Papua Barat,” kata Lamek yang merupakan mantan ketua GMNI Cabang Manokwari ini.

Dia berharap kalau pun belum ada perusahan penerbangan yang direkomendasikan, setidaknya Pemprov Papua Barat menggunakan mereka sebagai pilot untuk pesawat yang pernah dibeli dengan anggaran APBD Papua Barat, yang sedang dikelola perusahaan daerah Papua Barat, PT. Papua Doberay Mandiri (Padoma).

“Dimana pesawat yang dibeli dengan uang rakyat sejak pemerintahan gubernur periode lalu. Seharusnya SDM yang ada dimanfaatkan kalau memang belum ada rekomendasi pemerintah kepada dua adik ini,” ujarnya. (AD)

To Top